Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Diam-diam Menjadi Madu

Kau Usik, Kuambil Suamimu

"Terima kasih atas bantuannya dan sesuai perjanjian bayarannya telah saya kirimkan kepada anda," tutur seorang wanita seraya menuruni anak tangga.

Dia benar-benar bahagia mendapati kabar bahwasanya seluruh pekerjaan yang diberikan kepada seseorang telah selesai dilaksanakan. Itu artinya dia menang dan setelah ini akan melihat seorang gadis yang bersedih karena gagal mendapatkan beasiswa untuk kuliah di sebuah universitas ternama di kota tersebut.


"Bagaimana Ranti? Kamu lihat kan, jangan pernah sekalipun melawan Yura. Inilah
salah satu ganjarannya. Kamu tidak lulus karena uang yang berbicara," tutur Yura, tak memutuskan tatapannya dari ponsel setelah mengirimkan bukti transfer atas pembayaran untuk seseorang yang telah meloloskan keinginannya.

"Jadi Anda yang telah membuat saya tidak lulus tes itu!!" sergah seorang gadis seraya mendekati Yura.

Seketika tubuh wanita itu menegang dihadang Ranti gadis yang telah dia hancurkan harapannya agar bisa kuliah mengandalkan beasiswa.

"Bukan saya. Tepatnya seseorang yang telah saya bayar untuk menggagalkan seluruh impianmu. Kenapa? Karena saya paling tidak suka ada seorang anak yang besar kepala menganggap dirinya pintar dan yakin bisa mendapatkan beasiswa dengan kemampuannya sendiri. Menolak hutang budi apalagi materi. Namun saya ingin anak itu berlutut dan bersimpuh di hadapan saya memohon agar meminjamkan uang lagi untuk biaya kuliahnya, bukan dengan jalur beasiswa yang akan membuatnya semakin angkuh dan mendongakkan kepala ketika berpapasan dengan saya di rumah ini."

Yura menekankan setiap kata yang terucap dari bibirnya. Dialah seorang majikan yang selalu saja merasa sang suami begitu perhatian kepada Ranti, gadis yang kini menatap tajam kepadanya.

Yura baru tiga tahun menyandang status sebagai istri sah dari Saka Atmaja, seorang konglomerat dengan kekayaan yang begitu berlimpah karena bisnis hotel yang dia geluti.

Menikahi karyawannya sendiri karena menganggap Yura itu adalah gadis yang sangat sederhana namun, tanpa sepengetahuan Saka, Yura memporak-porandakan isi rumahnya dengan mengandalkan label sebagai istrinya di rumah tersebut.

Saka dulunya tinggal bertiga bersama asisten rumah tangganya yang memiliki dua orang anak gadis bernama Ranti dan Indri. Indri berkuliah pula di luar kota, jarang pulang ke rumah karena dia mengambil pekerjaan sampingan untuk meringankan beban sang Ibu.

Kini giliran Ranti yang telah tamat SMK ingin melanjutkan kuliah dengan mengambil jalur beasiswa. Namun itu semua digagalkan Yura, agar ibunya Ranti meminjam uang kembali padanya sama seperti saat mendaftarkan Indri ke universitas.

Bukan tanpa alasan Yura tidak menyukai sosok Ranti yang dianggapnya sebagai anak pembangkang.

Ranti juga terang-terangan memarahinya ketika mengajak teman-temannya untuk minum-minum di rumah tersebut saat sang suami berdinas di luar kota. Merasa Ranti itu sebagai saingannya di rumah tersebut dan menghambat ke aktivitasnya maka dari itu Yura akan menghalalkan segala cara agar membuat Ranti memohon serta mengemis padanya.

sedangkan selama ini Saka memerintahkan Yura untuk menghandle seluruh keperluan rumah termasuk biaya sekolah dan kebutuhan Ranti.

Kenapa? Karena ibu Ranti sudah bekerja di sana semenjak Saka masih kecil. Pria itu sudah menganggap ibunya Ranti seperti Ibu angkat.

Kedua orang tuanya telah meninggal dunia dan Saka juga sudah berjanji kepada mendiang ayahnya nanti untuk membantu kedua anaknya menempuh pendidikan agar bisa mengubah dan menaikkan derajat keluarga mereka.

"Sekarang saya tanya kepada Anda sebelum melakukan ini kepada saya, apakah sudah berpikir seperti apa konsekuensi yang akan anda dapatkan?"

Rahang Ranti mengeras. Mengikis jarak dengan Yura yang saat ini masih berdiri di anak tangga terakhir.

Satu sudut bibir Yura terangkat.

"Tidak akan ada yang terjadi karena kau hanyalah seorang anak ingusan yang tidak memiliki apapun. Jadi pergilah, silahkan tangisi dan ratapi kegagalanmu mengambil beasiswa. Setelah ini kau harus bersujud di bawah kakiku agar aku mau meminjamkan uang untukmu kuliah." Yura melewati Ranti.

Sedikit menyenggol pundak gadis itu. Dia juga tertawa terbahak-bahak. Akhirnya berhasil mengalahkan Ranti menghancurkan seluruh harapan gadis itu untuk kuliah di sebuah universitas ternama.

Tadinya Ranti lolos tapi dengan kekuatan dan uang yang dia miliki semua itu bisa berbalik sehingga gagal. Tak memiliki kesempatan untuk menggapai beasiswa yang selama ini dia idam-idamkan.

Kedua tangan Ranti mengepal erat. Mengutuk apa yang kini dilakukan Yura kepadanya. Padahal dia tidak pernah sekalipun mengusik majikannya itu entah kenapa Yura begitu sangat membencinya.

"Oke, Yura. Menurutmu aku tidak bisa membalas apa yang kau lakukan? Baiklah." Ranti tertawa tipis. Aku akan menerima tawaran temanku untuk menghancurkan kehidupanmu yang sangat sempurna ini," gumamnya.

Melangkah cepat, menyusul Yura yang sedang bersenandung bahagia merayakan kemenangannya dari Ranti.

"Anda yakin saya tidak bisa membalas anda?"

"Anak ingusan...ayolah jangan terlalu menggebu seperti itu. Takutnya kau malah kecewa lagi seperti sekarang. Sakit kan, tiba-tiba saja ditolak padahal sempat masuk ke salah satu daftar mahasiswi yang menerima beasiswa? Jangan sampai aku melakukan hal yang lebih padamu jika kau coba-coba melawan kepadaku. Cukup turuti apa yang aku inginkan maka kau bisa kuliah."

"Rasanya aku tidak butuh kuliah jika berhasil menghancurkan kehidupanmu. Itu merupakan sebuah prestasi tertinggi dan bahkan aku akan menjadi kaya raya sama sepertimu." Ranti mendongak tak kalah pongahnya dibandingkan Yura.

Wanita itu menabuh genderang perang. Baik, selama ini dia diam dan bersabar tapi tidak untuk kali ini. Dia akan melibas Yura dan menendang wanita itu dari rumah mewah tersebut.

Usai perdebatannya dengan Yura, Ranti bergegas menuju kamar meraih ponselnya yang ada di meja belajarnya dan menghubungi seseorang.

Ella, sahabat dekatnya yang tak lain tetangga satu komplek dengannya. Ella merupakan seorang anak konglomerat pula tapi, tidak pernah memilih dalam berteman. Meskipun Ranti hanyalah seorang anak asisten rumah tangga tidak menjadi halangan bagi Ella menerimanya menjadi seorang sahabat.

"Iya, Say ada apa?" sapa Ella seraya menundukkan bokongnya di tepi ranjang.

Sangat antusias menerima panggilan masuk dari sahabatnya tersebut. Ella yakin pasti ada kabar baik dari Ranti mengingat mereka mendaftar di kampus yang sama.

Bedanya Ranti melalui jalur beasiswa karena memang otaknya sangat pandai sedangkan Ella yang kepintarannya hanya standar saja tentunya mengandalkan keuangan kedua orang tuanya.

"Gimana? Kamu lolos, kan? Lolos lah, masa nggak kamu tuh nilainya nggak pernah dibawah 90 loh selama ini aku yakin kamu..."

"Aku gagal Ell," potong Ranti.

"What...gagal? Nggak mungkin lah, Say. Kok gagal? Astaga...kenapa, ada apa gerangan? Aku nggak percaya deh 100% nggak percaya kamu itu gagal."

"Aku juga nggak percaya kalau aku tidak akan mungkin gagal karena soal yang disuguhkan kepadaku bisa kujawab dan aku mengetahui jawabannya. Tapi permasalahannya siapa yang ada di belakang kegagalanku itu."

"Siapa, ayo katakan aku akan bantu kamu untuk membalasnya jika memang ada campur tangan orang ketiga."

Ella mendesak. Dia ikut geram mendengar penjelasan yang diberikan Ranti.

Dia tidak rela sahabatnya itu gagal mengambil beasiswa yang akan membuat Ranti batal kuliah nantinya. Dia juga tidak memiliki teman di kampus jika itu terjadi. Siapa lagi yang akan mengajaknya berbicara bahkan bergurau?

"Yura. Dia menyabotase hasil tes tersebut sehingga aku gagal dan gugur."

Mulut Yura terbuka. Tergagap, tak tahu bagaimana caranya menenangkan hati Ranti saat ini.

"Duh, nggak boleh nih, Mak Lampir itu lagi yang bikin kamu sial. Dia lagi yang cegah kamu untuk maju. Oke," Ella mengambil nafas dan menghembuskannya secara perlahan.

"Aku emosi nih, ceritanya. Kamu lihat, kalau kamu di sini kamu bisa bisa melihat wajahku merah padam dan bahkan sekarang kepalaku mengeluarkan asap. Kalau sudah seperti ini aku sudah buta mata buta hati. Jadi lebih baik sekarang kita pakai saja senjata pamungkas untuk membuatnya menangis darah dan memohon ampun kepadamu."

Ranti tersenyum tipis. "Justru itulah yang membuatku menghubungimu jadi bagaimana apakah kamu tetap mau membantuku untuk membalas wanita itu?"

"Tentu saja. Sebagai sahabat aku nggak rela kamu diperlakukan seperti ini. Maka dari itu aku akan mengorek semua informasi tentang majikan laki-lakimu kamu harus menjadi istri keduanya dan membuang Yura jauh-jauh."

"Oke aku tunggu kabar darimu."

"Nanti sore aku juga akan kesana membawakan alat-alat penunjang agar kamu bisa menggoda Tuan Saka."

"Iya, aku tunggu kamu di sini."

"Baiklah kalau begitu aku akhiri dulu. Aku mau tanya-tanya banyak sama mami mumpung dia ada di rumah."

Ella mengakhiri panggilan masuk yang terhubung dengan Ranti. Sangat berselera dia menghancurkan Yura.

Selama ini Yura selalu mengusik kehidupan Ranti dan ibunya padahal Ranti dan ibunya lah yang lebih dahulu tinggal di rumah mewah tersebut.

Bahkan ibunya Ranti adalah saksi hidup bagaimana tumbuh kembang Saka suami Yura sekaligus pria yang membuat wanita itu bisa hidup bergelimang harta seperti sekarang.

"Baiklah Yura kita lihat siapa yang akan menangis darah setelah ini." Ranti menggenggam erat ponselnya membulatkan tekad melupakan sejenak pendidikannya dan akan lebih memfokuskan diri membalas dendam kepada Yura atas apa yang telah wanita itu lakukan kepadanya selama ini.

***

Lihat Selengkapnya Disini

Posting Komentar untuk "Diam-diam Menjadi Madu"