Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tunanganku Kau Rebut Bos Tajir Kudapat

Pertunangan

"Jadi begini, Pak, Bu.
Sebenarnya kedatangan saya dan ibu kesini memiliki niat baik untuk melamar Hana," ucap Bima yang kini duduk di ruang tamu rumah Hana. Rumah dengan ukuran yang sangat luas, tapi terlihat sederhana.

Karena Bapak juga telah meninggal, Bima hanya mengajak ibunya saja untuk pergi ke rumah Hana agar bisa melamar kekasih hatinya itu.


 Pak Iwan menatap pada anak sulungnya.

"Kalau bapak sih terserah Hana saja nak Bima. Ya, sebagai orang tua, Bapak hanya bisa memberikan restu saja jika memang Hana sudah setuju. Jadi bagaimana Hana? Apa kamu mau menjadi istri Bima Nak?" Tanya Pak Iwan pada Hana.

Hana tersenyum dan mengangguk malu-malu. Mana mungkin ia menolak, setelah berpacaran cukup lama dengan Bima. Hari ini memang sudah ia tunggu-tunggu.

"Alhamdulillah, Hana mau Nak Bima." Sahut Pak Iwan.

Raut wajah Bima juga terlihat senang. Dadanya kini kian lega.

"Tapi sebelumnya saya ingin minta maaf kalau anak saya hanya bisa mengikat Hana dengan pertunangan dulu Pak, Bu. Bima masih perlu fokus dengan pekerjaannya, karena sebentar lagi dia akan di angkat menjadi manager." Ucap Bu Ida, Ibu Bima.

Wajah Pak Iwan yang tadinya senang, langsung berubah muram. Anaknya sudah berumur 27 tahun, sudah sangat pas untuk segera menikah.

"Jadi begini Pak, saya tidak maksud untuk mengulur, tapi ucapan ibu tadi ada benarnya kalau saya ingin fokus dengan karir dulu. Insyaallah dalam waktu 6 bulan ini saya akan menikahi Hana." Imbuh Bima yang tidak ingin keluarga Hana salah paham.

Pak Iwan menghelas nafas. Ia akhirnya setuju karena Hana juga terlihat sangat mencintai Bima.

"Untuk acara pertunangannya, saya akan menyiapkan di hotel Pak." Ujar Bima lagi. Ia ingin menunjukkan kesuksesannya pada keluarga Hana. Walaupun masih belum di angkat menjadi manager.

"Bukannya bapak tidak setuju Nak Bima. Tapi menurut bapak, acaranya sederhana saja di rumah ini. Tidak perlu sampai menyewa hotel segala." Ucap Pak Iwan yang merasa kurang setuju.

Bu Ida segera menoleh pada anaknya agar setuju saja dengan ucapan Pak Iwan, lumayan ia bisa mengirit uang nanti.

"Benar sama yang dikatakan bapak Nak Bima, ibu juga lebih setuju pertunangan yang sederhana saja di rumah ini." Imbuh Bu Maryam yang merupakan ibu dari Hana.

"Baiklah kalau memang bapak dan ibu lebih setuju di rumah ini. Seminggu lagi pertunangan akan di gelar disini." Sahut Bima pada akhirnya.

Setelah mencapai kesepakatan, Bima dan juga ibunya pun pamit pulang.

Hana mengantarkan Bima hingga keluar.

"Hati-hati di jalan ya, Mas."
Ucap Hana dengan suara lembutnya.

"Iya Sayang. Kamu juga langsung istirahat ya." Ucap Bima.

Hana menganggukkan kepalanya, dan segera mencium tangan Bu Ida, Ibu Bima.

Bima dan ibunya segera masuk ke dalam mobil, dan mulai melajukan mobilnya pergi meninggalkan pekarangan rumah Hana.

Hana pun kembali masuk ke dalam rumah.

"Kamu beneran udah mantap sama Bima, Han?" Tanya Pak Iwan lagi. Entahlah kenapa tiba-tiba hatinya memiliki firasat kurang enak jika Hana harus menikah dengan Bima.

"Iya Pak. Mas Bima orang yang sangat baik. Dan aku sudah berpacaran sama Mas Bima sejak 2 tahun yang lalu, sejak aku baru pertama kali bekerja di perusahaan Abimanyu Group.

"Emangnya bener si Bima bakalan naik jabatan, Han?" Tanya Bu Maryam penasaran.

"Iya Bu. Katanya sih lagi di promosiin jabatan untuk jadi manager, sebenarnya pengumuman juga sebulan lagi. Mungkin dalam waktu 5 bulan kedepan, Mas Bima masih ingin menunjukkan kinerja baiknya sebelum di angkat menjadi manager." Sahut Hana. Ia jelas tau, karena memang satu kantor dengan Bima.

Bu Maryam menganggukkan kepalanya mengerti.

"Baiklah, ibu paham nak" Sahut Bu Maryam.

"Ya sudah aku pamit ke kamar dulu, Pak, Bu." Ucap Hana yang segera melangkahkan kakinya pergi ke kamar untuk istirahat. Karena besok ia masih harus bekerja di kantor.

***

"Untung saja keluarganya Hana gak minta yang aneh-aneh Bima. Bodoh emang mereka, mau dikasih yang mewah di hotel, tapi lebih milih di rumah." Ucap Bu Ida setelah sampai di rumah.

"Aku menyukai Hana karena memang dia sederhana, Bu. Dan wajahnya juga sangat cantik." Sahut Bima. Sejak pertama kali melihat Hana, Bima sudah jatuh cinta.

"Iya iya, kamu sudah mengatakannya berulang kali sama ibu. Walaupun ibu tidak suka dengan keluarganya yang miskin." Ucap Bu Ida mencibir.

"Mereka sederhana Bu, bukan miskin. Hana punya gaji yang cukup, tapi keluarganya gak mau untuk renovasi rumah. Lebih nyaman begitu katanya." Bela Bima.

"Ya kan emang bodoh itu keluarganya. Rumah yang sudah jadul itu masih di rasa nyaman. Kalau ibu sih gak mau. Nanti kalau kamu diangkat jadi manager, kamu harus bagusin nih rumah ibu. Toh nanti kamu sama Hana juga bakalan tinggal di rumah ini." Ucap Bu Ida.

"Iya iya Bu. Ibu juga sudah mengatakannya berulang kali."

***

Hari pertunangan pun tiba.

Hana tampak cantik dengan kebaya yang dikenakannya, di dampingi oleh adiknya Maura, dan juga sepupunya Rani.

"Kak, kata ibu Mas Bima sebentar lagi bakalan naik jabatan ya?" Tanya Maura yang memang ceplas-ceplos. Umurnya bahkan sudah 20 tahun, dan masih kuliah.

"Iya dek, doain aja. Mungkin rejeki kakak nanti punya suami manager." Sahut Hana dengan tersenyum.

"Wah keren tuh kak, semoga lancar-lancar ya sampai hari pernikahan nanti." Ucap Maura.

"Makasih dek."

'apa? Jadi si Bima bentar lagi jadi manager? Aku harus bisa merebutnya dai Hana sebelum mereka menikah. Mana rela aku kalah dari Hana. Dia hanya orang miskin yang tidak pantas untuk mendapatkan suami kaya.' batin Rani. Ia memang tidak terlalu suka pada Hana yang berwajah cantik, dan juga pintar. Apalagi sekarang sangat beruntung bisa mendapatkan calon suami manager.

"Kak Rani bagaimana nih? Kapan nyusul kak Hana?" Tanya Maura yang menyadarkan lamunan Rani.

"Ah kalau kakak sih masih lama, Maura. Nanti aja, nunggu jodoh yang pas. Kan gak bisa buru-buru." Sahut Rani.

Ceklek.

Pintu kamar Hana pun terbuka, ternyata Bu Maryam yang datang.

"Ayo keluar. Bima dan keluarganya sudah datang." Ajak Bu Maryam.

Hana pun akhirnya keluar dari kamar. Ia bisa melihat Bima yang terlihat sangat tampan sian ini.

"Cie kak Hana," ledek Maura.

"Apa sih dek. Diem deh, jangan bikin kakak malu." Ucap Hana dengan lirihnya. Karena kulitnya yang putih bisa merona jika terus diledek.

Acara pertunangan pun berlangsung dengan lancar, hingga cincin itu pun tersemat di jari manis Hana.

Setelah hampir dua jam, akhirnya acara pertunagan pun selesai. Dan keluarga Bima juga langsung pamit pulang.

Bu Susi segera mencari Rani, dan ternyata anaknya itu malah asik makan aja. Ya, Bu Susi adalah ipar Bu Maryam. Suaminya yang merupakan adik dari Bu Maryam. Makanya mereka berada di rumah Hana siang ini.

"Rani, kamu ini malah asik makan aja." Ucap Bu Susi yang langsung marah.

"Memangnya mau ngapain lagi sih, Bu? Tamu juga udah pulang." Sahut Rani yang makan melanjutkan makanannya.

"Rani, pokoknya ibu gak mau tau, kamu harus bisa dapatin itu calon suaminya si Hana. Dia ganteng, terus tajir lagi Rani. Kamu gak liat tadi seserahannya yang diberikan sama Hana? Harganya gak ada yang murah, Rani. Mana yang ibu dengar, dia bentar lagi jadi manager lagi. Kamu kan satu kantor sama dia, Rani. Pasti kamu bakalan punya banyak kesempatan buat deketin Bima." Ucap Bu Susi dengan sangat menggebu-gebu.

"Tanpa ibu beritahu, aku memang sudah berencana melakukannya. Jadi ibu diamlah. Kita harus pura-pura baik dan menikmati acara. Aku akan melakukan cara agar nanti aku bisa menjadi sekretarisnya Mas Bima. Jadi kita bisa deket." Sahut Rani. Karena ia juga tidak terima harus kalah dari Hana.

"Baiklah, ibu percayakan sama kamu. Awas aja kalau kamu sampai gagal." Ucap Bu Susi yang langsung pergi meninggalkan anaknya.

'aku tidak akan mungkin gagal Bu. Ibu tenang aja. Banyak cara yang masih bisa aku lakukan untuk membuat Hana dan Mas Bima berpisah. Kita lihat saja nanti.' batin Rani.

Karena sudah larut, Rani dan keluarganya pun pamit pulang

***

Hari libur telah usai. Dan kini kembali ke rutinitas padat lagi untuk bekerja. Seminggu pun sudah berlalu dari hari pertunangannya dengan Bima.

Hana telah siap dengan setelan kerjanya, ia memang selalu terlihat sederhana, namun cantik elegant dengan rambutnya yang terurai.

"Pak, Bu, aku berangkat kerja dulu." Pamit Hana.

"Hati-hati di jalan Hana." Ucap Bu Maryam.

"Iya Bu,"

Hana pun segera mencium tangan kedua orang tuanya, sebelum akhirnya keluar rumah dan langsung mengendarai motor kesayangannya untuk pergi menuju kantor.

Perjalanan rumahnya dengan kantor, tidak terlalu jauh. Hanya membutuhkan waktu setengah jam saja sudah membuat Hana sampai di kantor.

Kabar mengenai pertunangan Hana dan juga Bima tidak ada yang tau. Karena keduanya sudah sepakat untuk tidak mengumbar pertunangan itu. Bima takut akan berpengaruh pada karirnya.

"Selamat pagi neng Hana." Sapa Pak satpam yang berjaga di pintu lobi.

"Selamat pagi Pak." Sahut Hana dengan senyum manisnya.

"Jadi indah hari ini melihat senyum neng Hana." Ledek Pak satpam.

"Bapak bisa aja. Ya sudah saya masuk dulu Pak." Hana pun segera berlalu dari hadapan Pak satpam.

"Beruntung sekali pria yang bisa mendapatkan Mbak Hana. Cantik dan juga baik." Ucap Pak satpam sambil melihat ke arah Hana yang sudah menjauh.

Jam kerja pun di mulai.

Saat tengah fokus bekerja, Hana di minta ke ruangan bos.

"Ada apa ya Del, tumben banget Pak Razi manggil?" Tanya Hana pada teman divisinya karena takut jika dirinya membuat kesalahan.

"Entah, gue juga gak tau. Tapi mending Lo cepetan deh ke ruangan Pak Razi, sebelum di amuk." Ucap Adel.

"Hem, baiklah."

Hana pun melangkahkan kakinya ke ruangan Pak Razi, CEO di kantor cabang Abimanyu Group.

Tok tok tok.

"Ya, masuk." Ucap Pak Razi dari dalam ruangannya.

Hana segera memutar handle pintu dan langsung masuk ke dalam ruangan Pak Razi.

"Bapak memanggil saya?" Tanya Hana.

"Ya, Hana. Kamu bisa duduk." Sahut Pak Razi.

Hana pun berjalan mendekat ke arah kursi, dan segera duduk berhadapan dengan Pak Razi, yang secara umur sudha seperti  Bapaknya.

"Jadi begini Hana, saya sudah melihat kinerja kamu yang bagus. Dan karena perusahaan pusat sedang membutuhkan karyawan, Bos Rian ingin menarik kamu ke kantor pusat." Ucap Pak Razi.

Wajah Hana langsung kaget mendengar ucapan Pak Razi. Ini memang mimpinya untuk bisa pindah ke kantor pusat.

"Serius Pak?" Tanya Hana sedikit tak percaya.

"Iya Hana, jadi mulai sekarang, kamu akan menjadi karyawan di kantor pusat. Kamu bisa siap-siap dulu. Dan langsung pergi ke kantor pusat, untuk bertemu dengan bos Rian disana."

Hana menganggukkan kepalanya.

"Terimakasih banyak Pak. Saya tidak percaya bisa mendaptkan kesempatan kerja yang luar biasa ini." Ucap Hana dengan riangnya.

"Sama-sama Hana. Kalau begitu selamat ya. Dan saya harap, kamu tidak mengecewakan saat nanti pindah ke kantor Abimanyu Group pusat. Dan ya, ada satu hal lagi yang harus kamu siapkan. Dengan berat hati saya hrus mengatakan, kalau kamu harus berhijab setelah pindah kerja disana. Memang tidak semuanya sih, tapi posisi kamu nanti yang akan sering berinteraksi dengan pak Bos, lebih aman berhijab. Bos Rian orang yang cukup dingin dan paling tidak suka dengan karyawan yang berpakaian seksi dan terbuka. Ya, meskipun secara pakaian kamu selalu sopan. Menurut saya tidak ada salahnya kalau kamu mengikuti saran saya." Ucap Pak Razi. Ia hanya ingin Hana betah di kantor pusat menjadi sekretaris bos Rian Abimanyu. Pemilik perusahaan Abimanyu.

"Tidak masalah Pak. Bukan syarat yang berat. Kalau begitu, saya pamit permisi ya, Pak." Ucap Hana.

"Hem, baiklah. Kamu bisa mulai bekerja besok saja di kantor pusat. Saya akan konfirmasi dengan Pak Rian jika kamu butuh waktu untuk pindahan."

"Iya Pak, sekali lagi saya terimakasih."

Hana pun keluar daru ruangan Pak Razi. Wajahnya sangat gembira dan gak sengaja berpapasan dengan Rani.

"Seneng banget kayaknya. Ada apa Han?" Tanya Rani.

"Iya Ran, gimana aku gak seneng. Aku akan pindah ke kantor Abimanyu pusat." Sahut Hana. Ia yang membantu Rani untuk bisa bekerja di perusahaan Abimanyu cabang itu.

"Wah, selamat ya Hana. Kamu emang berbakat sih." Sahut Rani dengan setengah hati.

"Makasih ya Ran, ya sudah aku duluan deh. Mau kemana sama Mas Bima sekalian bilang hal ini." Pamit Hana.

"Kayaknya Pak Bima gak ada deh. Dia keluar tadi. Nanti biar aku sampaikan aja takutnya kamu buru-buru." Ucap Rani. Ia tentu saja ingin menggunakan kesempatan ini agar bisa memecah hubungan Hana dan juga Bima.

"Makasih ya Ran, aku memang buru-buru sih. Ya sudah aku duluan."

Hana segera kembali ke mejanya dan mulai membereskan barang-barangnya. Walaupun sempat ada drama dari beberapa teman divisinya.

***

"Mas," panggil Rani pada Bima yang baru keluar dari ruangannya.

"Hai Ran," sahut Bima yang tau jika Rani adalah sepupu Hana.

"Tadi Hana titip salam, dia udah berhenti dari kantor ini dan pindah ke kantor pusat Mas. Aku sudah minta dia buat nungguin kamu, tapi Hana gak mau dengerin." Ucap Rani yang memulai berbohong pada Bima.

"Pindah? Tapi kenapa tiba-tiba?" Tanya Bima.

"Ya aku gak tau juga Mas. Mungkin karena kamu sebentar lagi jadi manager kali, makanya dia gak mau kalah. Em Mas, kalau boleh, aku mau nebeng ya. Rumah kita kan searah." Ucap Rani sambil membenarkan rambutnya.

"Hem, iya boleh." Sahut Bima. Walaupun pikirannya masih terbayang wajah Hana yang pergi tanpa pamit.

'apa benar ucapan Rani tadi, kalau Hana tidak ingin kalah saing dariku. Makanya dia sampai pindah ke kantor pusat?" batin Bima.

Rani dan juga Bima pun masuk ke dalam mobil. Dan Bima langsung melajukan mobilnya.

"Mas Bima hebat banget ya, di usia muda udah keren banget mau jadi manager." Puji Rani pada Bima.

"Ah, iya Ran. BErkat kerja keras dan juga kegigihan." Sahut Bima.

Obrolan terus berlangsung, hingga tiba-tiba Rani meminta Bima untuk mengangkatnya menjadi sekretaris saat menjadi manager nanti.

Tangan Rani bahkan dengan lancangnya memegang tangan Bima, hal yang tidak pernah Bima lakukan pada Hana. Karena hubungannya dengan Hana hanya sebatas status saja. Tanpa sering pegang-pegang apapun. Walaupun penampilan Hana juga tidak berhijab selama ini.

"Mas kalau aku boleh jujur, kamu sangat tampan sekali." Puji Rani lagi. 

Bima berdehem dan mencoba untuk fokus melihat ke arah jalanan. Rani memang sangat pintar untuk mencari perhatian Bima hingga membuat Bima tersanjung.

"Sayang sekali, kamu harus tunangan sama Hana Mas," lirih Rani.

Bima mengernyitkan dahinya. Ia tak percaya jika sepupunya Hana akan berkata begitu.

"Maksud kamu apa bicara begitu Ran?"

"Ya sayang aja Mas, Hana tidak benar-benar mencintaimu. Sedangkan kamu sudah begitu bucin sama Hana. Buktinya dia tidak pernah mau kan kamu pegang? Padahal sama mantan pacarnya bisa lebih dari itu." Ucap Rani menjadi kompor.

Bima sangat marah mendengar ucapan Rani. Ia takut jika apa yang Rani katakan benar adanya.

"Mas, itu yang di depan rumahku." Ucap Rani yang takut jika Bima akan kelewatan.

Bima pun menghentikan mobilnya setelah sampai tepat di depan rumah Rani, rumah dua lantai yang bergaya modern. Walaupun terlihat tidak terlalu mewah.

"Makasih banyak ya, Mas." Ucap Rani sambil memberikan senyum manisnya.

"Iya sama-sama, maaf aku harus segera pergi." Pamit Bima.

Setelah Rani turun, Bima pun langsung melajukan mobilnya pergi.

***

"Kamu yakin akan tinggal sendirian nanti, Han?" Tanya Bu Maryam yang agak khawatir pada anaknya.

"Iya Bu, gak masalah. Toh cuma sebentar kan? Rencananya nanti setelah menikah, aku akan resign. Tapi aku belum bilang sih sama Mas Bima. Semoga aja dia setuju, agar aku juga bisa fokus keluarga." Sahut Hana.

"Ya sudah kalau memang itu sudah menjadi keputusan kamu, ibu bisa apa Nak? Yang penting kamu harus tetap bisa jaga diri." Pesan Bu Maryam.

"Iya Bu. Oh iya, bos ku yang ditempat kerja baru memberikan peraturan untuk berhijab Bu."

"Alhamdulillah, bagus dong. Ibu juga setuju hal itu. Sudah lama sebenarnya ibu ingin kamu berhijab. Tapi ibu juga tidak enak yang mau maksa kamu, Nak."

"Semoga aku bisa betah dengan pekerjaan baruku nanti ya, Bu."

Bu Maryam mengaminkan. Dan akhirnya Hana pamit pada ibu dan bapaknya setelah taksi online tiba. Karena ia perlu mencari kos sebelum malam tiba.

***


Posting Komentar untuk "Tunanganku Kau Rebut Bos Tajir Kudapat"