Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dinafkahi Adik Ipar

Sebuah Paksaan

"Ibu sudah gila? Menjodohkan aku dengan wanita kampung itu?" Aryan menggeleng." Aku nggak sudi, Bu! Menikah dengan Alya. Seperti yang Ibu tau, dia benar-benar wanita yang norak dan besar di desa. Mau ditaruh dimana mukaku kalau dia yang menjadi istriku?" Menghempaskan tubuhnya di sofa.

Aryan memijat pelipisnya yang terasa sakit karena permintaan sang ibu, yang ingin dirinya menikah dengan Alya, gadis desa, anak dari tuan Aditama rekan bisnis sang ayah.

"Nggak bisa gimana? Kedua orang tua Alya banyak berjasa kepada keluarga kita. Seperti yang kamu tau, usaha ayahmu tidak akan sebesar sekarang tanpa bantuan ayahnya Alya. Mereka yang membantu ayahmu menyalurkan alat-alat pertanian ke desa-desa. Sehingga kamu bisa hidup mewah dan berkecukupan.

Ibu lihat Alya itu cantik dan baik. Tidak ada yang salah darinya. Kamu saja yang terlalu terobsesi dengan wanita metropolitan. Berpakaian seksi dengan dada yang luber kemana-mana." Mariana mencebik. "Bagus Alya kemana-mana. Pakaiannya tertutup meskipun tidak modern. Tapi dipoles dikit pasti dia jauh lebih cantik daripada pacarmu itu."

"Nggak. Pokoknya aku nggak mau nikah sama wanita udik. Apapun alasannya!"

"Ibu juga nggak mau tau. Pokoknya kamu harus menikah dengan Alya, apapun alasannya."

"Bu--"

"Apa?!"

"Ayah juga nggak mau tau, Yan. Pokoknya kamu dan Alya harus menikah. Pernikahan kalian akan dilangsungkan tepat empat puluh hari kematian Aditama. tidak ada penolakan jika kamu masih ingin menjadi pemimpin di perusahaan."

Perdebatan Antara Aryan dan Mariana selesai.  Ketika pemimpin di dalam hidup mereka datang memberikan sebuah ultimatum dan sebuah undangan.

"A-apa ini, Yah?" tangan Aryan bergetar menyentuh sebuah undangan pernikahan yang diletakan sang ayah di meja kerjanya.

"Undangan pernikahan kamu dan Alya. Seluruh persiapan pernikahan kalian telah selesai dilakukan dan minggu depan kalian akan menikah. Kamu tidak perlu khawatir dengan Raisa, Ayah sudah mengirim satu undangan ke rumahnya!"

"T-tidak mungkin." Aryan menggeleng. "Ini tidak mungkin. Aku tidak percaya Ayah mau menyakiti anak sendiri tanpa persetujuan seperti ini. Ayah dengan teganya memaksaku menikahi gadis kampung itu!"

"Tinggal di kampung bukan berarti dia tidak layak untuk kamu nikahi. Jadi jangan banyak bertingkah seperti itu. Bersiaplah baik dan menurut kepada kami."

"Tidak, Yah!"

"Silahkan angkat kaki dari sini jika kamu tidak setuju!"

Mulut Aryan terbuka. Menatap tak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut sang ayah, yang tega mengusir dirinya hanya demi sosok Alya.

"Kenapa harus aku?" Aryan bertanya dengan suara yang begitu rendah dan lirih. Menekan semua amarah yang sempat menyelimutinya. Ia sadar, melawan sang ayah tidak bisa menggunakan cara keras seperti tadi.

"Bukankan ada anak Ayah yang lain? Bukan hanya aku yang terus-menerus ditekan seperti ini, sedangkan Ayah tau hubungan aku dan Raisa sudah terjalin sejak lama. Kenapa harus aku, sedangkan Niko tidak pernah sekalipun terlihat menjalin hubungan dengan wanita manapun. Jadi kenapa tidak Niko saja?"

"Niko masih kuliah dan dia sama sekali tidak tertarik dengan perusahaan. Seperti yang kamu tau, adikmu itu lebih suka bermain dengan resep makanan di dapur. Tidak layak menjadi pendamping bai Alya, yang akan mewarisi seluruh harta kekayaan ayahnya. Dan satu hal yang harus kamu ketahui, Alya itu memiliki segalanya meski dia tinggal di pedesaan. Kamu cukup mengubahnya menjadi gadis kota kalau memang itu yang menjadi kendala bagimu."

"Tetap saja aku tidak bisa. Bagaimana dengan hatiku dan Raisa?"

"Bisa diatur. Seiring dengan berjalannya waktu Ayah yakin kalian berdua akan saling mencintai satu sama lain. Dan Raisa akan menemukan cinta baru."

Aryan menggeleng. Mengusap wajah dengan kasar. Helaan napas berat pun keluar dari mulut dan hidungnya. Ketika perdebatan dengan kedua orang tuanya tadi pagi, terus terbayang dan terngiang. Bahkan, akhir dari perdebatan tersebut Aryan akan tetap menikahi Alya, meski ia terus menolak.

"Ini apa-apaan, Yan? Undangan pernikahanmu telah beredar, tapi bukan namaku yang tertera disana!!" pekik seorang wanita, berpakaian minim. Sembari melemparkan dua lembar undangan ke meja kerja Aryan.

"Aku tidak tau." Desah Aryan. Melirik sekilas kepada wanita yang tak lain adalah Raisa. Mau membujuk Raisa, rasanya Aryan tidak sanggup karena ia sendiri tidak memiliki kekuatan untuk membatalkan semua rencana sang ayah.

Mau membantah seperti apapun tidak ada gunanya sama sekali, karena belum pernah sekalipun perintah sang ayah bisa dilanggar. Apapun caranya.

"Nggak tau tapi kamu mau nikah sama Alya. Kamu ini bukan anak kecil, Yan! Yang tidak mengerti padahal sudah tau kalau ada undangan, itu artinya persiapan pesta pernikahan sudah selesai hampir secara keseluruhan. Apalagi ayahmy bukanlah orang sembarangan dan aku yakin semuanya sudah selesai." Raisa mulai terisak. Napasnya terasa sesak saat ini. Tidak sanggup membayangkan bagaimana jadinya jika ditinggal Arya menikah.

Bertahun-tahun menjalin hubungan dengna Arya, harus kandas begitu saja, tentunya itu tidak mungkin. Ia tidak akan rela hubungan mereka berakhir begitu saja, karena Raisa sangat mencintai Arya.

"Sumpah, Sa." Aryan bangkit dan menangkup kedua pipi Raisa. "Aku tidak pernah tau tentang ini semua. Tiba-tiba saja tadi pagi ayah datang dan menyampaikan ini semua padaku. Aku berani bersumpah demi apapun semua ini tidak ada hubungannya denganku, murni keinginan ayah yang ingin membalas budi pada ayahnya Alya."

"Tapi, Yan..."

"Kamu tidak perlu khawatir, Sa. Meskipun aku harus mengikuti keinginan ayah, aku bisa pastikan padamu tidak akan pernah mengubah apapun didalam hubungan kita. Kamu dan akau akan tetap sama seperti sekarang, meski aku sudah menikah"

Raisa menggeleng. Menepis tangan Aryan yang tengah bertengger di kedua pipinya. "Begini? Hanya seperti ini? Sampai kapan aku harus menjadi kekasihmu tanpa ada kejelasan sama sekali? Bahkan setelah kamu menikah aku masih saja menjadi kekasih, yang ada nantinya aku akan dicap sebagai Pelakor!"

"Jadi apa maumu?"

"Mauku? Kamu yakin menanyakan apa yang aku inginkan?"

Aryan mengangguk. Siap mendengar dan mewujudkan apa yang diinginkan Raisa. Apapun. Bahkan Aryan mau memberikan sepotong hatinya jika memang Raisa menginginkan itu."

"Aku ingin kita menikah. Sebelum kamu dan wanita itu menikah, agar aku tak menjadi istri kedua. Dan setelah kalian menikah, aku harus ikut tinggal bersama kalian!!" Sudut bibir Raisa terangkat. "Kenapa diam? Tidak sanggupkah?"

Aryan yang ditodong bungkam seketika. Tidak yakin bisa mewujudkan keinginan Raisa. Namun, melihat air mata Raisa yang telah membasahi pipinya, membuat Aryan mengangguk juga. Meski samar, sanggup menyetujui keinginan Raisa. Sehingga gadis dengan mini dress di atas lulut itu, melompat ke pulukan Aryan.

Melingkarkan tangannya di tengkuk Aryan, dan melumat kedua belah bibir pria itu. Mengubah suasana ruangan sedemikian rupa. Saking dalam dan menuntutnya pagutan tersebut, Aryan nyaris saja tidak bisa bernapas jika Raisa tidak melepaskan tautan bibir mereka.

"Aku akan mengurus segala berkas untuk pernikahan kita," bisik Raisa. Sebelum beranjak pergi meniggalkan ruangan pria itu.

Memaksakan senyumannya, Aryan melepaskan kepergian Raisa. Berharap ada sebuah keajaiban agar ia tidak memiliki dua orang istri.

***

Disaat Aryan pusing dengan segala desakan kedua orang tua dan rencana dari Raisa, di sudut desa sana ada seorang gadis yang tersenyum getir menatap dua gundukan tanah, saling berdampingan, tempat dimana kedua orang tuanya beristirahat.

"Abi, Umi, aku harus apa?" gumamnya. Meremas kuat kedua batu nisan tersebut. Gadis yang tak lain Alya itu, mendatangai makam kedua orang tuanya untuk mendapatkan kekuatan. Menerima perjodohan yang katanya harus dilakukan agar calon mertuanya mau membayar hutang sang ayah. Hutang yang tak diketahui dari mana datangnya, namun menghabiskan semua aset dan tabungan kedua orang tuanya.

"Kalau kamu menerima perjodohan itu, bagaimana dengan hubungan kita?"

Seorang pria mengajukan pertanyaan kepada Alya, yang masih betah duduk di antara makam kedua orang tuanya.

Alya tak perlu mengangkat wajahnya agar tau siapa pria tersebut. Cukup dengan mendengar suaranya saja Alya sudah tau siapa pria tersebut. Pria penghuni hatinya selama dua tahun belakangan ini.

"Jangan tanya bagaimana. Karena kamu sudah tau apa jawabannya. Karena kamu tau, aku tidak akan pernah mampu membayar semua hutang Abi, meski aku harus menjual seluruh organ di dalam tubuhku."

"Itu artinya kamu menerima, Al?"

Alya mengangguk. "Bukan menerima. Namun, terpaksa menjalankan semuanya agar tanah dan rumah ini tidak disita pihak bank."

"Baiklah." Pria itu menghela napas panjang. Meremas pundak Alya. "Semoga kamu bahagia dengannya."

"Terimakasih."

Satu kata sebagai pengganti kata perpisahan dengan sang kekasih. Perih memang, tapi Alya akan pura-pura tidak merasakan apapun, demi kewarasannya sendiri. Menikah dengan pria tak dikenali. Tentunya bukanlah perkara mudah bagi wantia tidak mengenal dunia luar seperti dirinya.

Posting Komentar untuk "Dinafkahi Adik Ipar"