Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kuusir Suami Pengkhianat

Anna Pulang

Romi begitu gelisah saat mendapatkan kabar jika Anna, istrinya yang sudah empat tahun bekerja di luar negeri akan pulang.

Lelaki itu begitu panik karena dia menyembunyikan sesuatu yang mungkin akan membuat Anna murka.

"Ma, gimana ini?" Romi berjalan mondar-mandir membuat Sri, ibunya ikut bingung.

"Kamu bisa diam nggak Rom? Mama juga bingung," sahut Sri dengan ketus.


Lelaki itu menatap jam yang menggantung di dinding ruang keluarga, sudah sejak kabar Anna pulang hari ini, waktu sudah berputar selama empat jam.

"Ma, kalau Anna sampai menanyakan tabungannya gimana? Aku nggak tahu harus jawab apa." Wajah Romi terlihat begitu kacau, lelaki itu bingung mencari uang delapan puluh tiga juta ke mana.

Uang tabungan yang harusnya akan dipakai untuk membuka usaha Anna telah habis di tangan Romi.

Sri hanya diam, dia juga pusing bagaimana caranya untuk mengganti uang itu sedangkan mereka saja hanya mengandalkan Anna selama ini.

Romi yang terlalu nyaman dengan kiriman uang dari Anna menjadi lupa tanggung jawab, lelaki itu bahkan keluar dari pekerjaannya tanpa sepengetahuan Anna.

Romi beralasan, jika gajinya diberikan pada ibunya karena memang Sri seorang janda yang hanya memiliki satu anak, hanya Romi saja.

Anna tidak mempermasalahkan hal itu, wanita itu begitu percaya pada Romi karena dia yakin kalau Romi tidak akan tega untuk berbuat macam-macam.

Memang visa kerja Anna turun tidak lama setelah mereka menikah, Anna dan Romi hanya memiliki waktu satu minggu menjadi pengantin baru.

"Rom, kamu bilang saja kalau buku tabungannya keselip atau ke mana gitu. Bilang saja kamu nggak pernah cek sama sekali," usul Sri.

Romi diam, lelaki itu mempertimbangkan alasan yang diusulkan ibunya, dan memang masuk akal, mungkin Romi akan memberikan alasan itu pada Anna.

"Anna pasti percaya. Ingat, istrimu itu kecintaan sama kamu. Dia pasti akan percaya, kalau dia sampai ngotot kasih pelajaran saja. Seperti biasa, bilang kalau dia nggak nurut kamu akan meninggalkannya. Mama yakin Anna tidak akan berani melawan," terang Sri.

romi mengangguk-anggukkan kepalanya, lelaki itu kini tersenyum penuh arti, dia akan menggunakan cara itu untuk membuat istrinya tidak berkutik.

"Mama benar. Kenapa aku nggak kepikiran, ya?" Romi menggaruk kepalanya, mungkin pikirannya yang terlalu panik sehingga dia tidak bisa berpikir jernih.

"Kapan kamu pintar? Kalau saja kamu pintar mungkin sudah dari dulu kamu menikahi Anna dan kita menumpang hidup padanya. Kamu terlalu pilih-pilih calon istri. Sudah Mama bilang kamu menikah dengan Anna, masalah kamu mau wanita cantik, kamu bisa dapat dengan mudah asal ada uang. Lelaki boleh menikahi dua wanita asal dia bisa adil!" ketus Sri.

Romi akhirnya bisa tenang, lelaki itu kini menunggu kedatangan istrinya dengan wajah bahagia. Dia harus terlihat tampan, supaya Anna tidak akan pernah berpaling darinya.

Romi dan Sri menunggu kedatangan Anna di ruang tamu, mereka sudah tidak sabar melihat oleh-oleh apa yang dibawakan untuk mereka.

Terdengar suara mobil yang berhenti tepat di depan rumah, rumah yang Anna bangun dari hasil kerja kerasnya.

Romi yang terlebih dulu keluar, melihat wanita cantik yang keluar dari taksi memberikan senyum saat melihatnya.

Lelaki itu segera mendekat dan memeluk istrinya, Romi mencium setiap inci dari wajah Anna.

"Mas, sudah. Malu dilihat orang," tolak Anna, tetapi wanita itu tidak menghindar dari perlakuan suaminya.

"Biarkan saja. Biar mereka tahu kalau aku sedang bahagia," sahut Romi.

Anna tertawa mendengar ucapan suaminya, meliaht Sri yang juga ikut menyambut, Anna yang sudah terlepas dari Romi segera mendekati mertuanya.

"Ma, Mama sehat?" Anna mencium punggung tangan mertuanya, wanita itu sangat menyayangi mertuanya karena Anna memang sudah tidak memiliki orang tua sejak kecil.

Itu sebabnya kenapa dia memilih bekerja ke luar negeri sejak sebelum menikah, tujuannya untuk menata hidupnya, tidak ada orang tua yang bisa dia andalkan untuk dia bergantung.

"Mama sehat. Kamu kelihatan lebih cantik sekarang," puji Sri.

"Mama bisa saja," ucap Anna.

"Ayo masuk. Apa kita akan terus memamerkan kemesraan ini pada tetangga?" Romi membawa koper istrinya, sedangkan Anna berjalan bersama dengan Sri, mereka juga masih terus bicara sampai mereka kini sudah berada di ruang keluarga.

"Gimana, Sayang? Apa kamu suka dengan rumah ini? Ini aku dapat denah dari temanku," tanya Romi saat melihat Anna yang mengamati setiap sudut rumah yang beberapa bulan lalu baru saja selesai dibangun.

"Aku suka, ruangan rumah ini juga nggak terlalu besar. Dan penataannya bagus. Ini semua idemu, Mas? Kamu sendiri yang menata ruang ini?" Anna begitu kagum saat melihat lukisan yang menggantung di dinding dan beberapa pajangan yang tertata rapi di lemari kaca.

"Iya aku dong Sayang. Em ..., lebih tepat aku dan Mama." Romi begitu bangga karena mendapat pujian dari istrinya.

"Iya gitu dong. Apa kamu mau menang sendiri? Mama yang banyak keluar ide untuk rumah ini bukan kamu saja," sahut Sri.

Anna tertawa, wanita itu begitu rindu saat mereka berkumpul seperti sekarang. waktu di mana hanya ada canda dan tawa yang membuatnya merasa disayangi di tengah-tengah keluarga suaminya.

"Sudah jangan terus bahas yang nggak penting," ucap Sri membuat Anna diam.

Wanita itu menatap mertuanya yang seperti akan bicara sesuatu dan benar saja, tidak lama menunggu Sri akhirnya mengutarakan pertanyaannya. "Kamu bawa oleh-oleh apa?"

Anna menatap suaminya, dia melihat wajah Romi juga penuh harap menunggu oleh-oleh yang dia bawa.

Wanita itu menghembuskan napas panjang. "Aku nggak sempat beli oleh-oleh Ma," jawabnya.

Terlihat jelas perubahan wajah dari Romi dan Sri membuat Anna merasa tidak enak, bukan tidak mau membawakan oleh-oleh untuk suami dan mertuanya, tetapi Anna memang tidak sempat keluar karena memang pekerjaannya begitu sibuk saat akan dia tinggal pulang.

"kamu nggak bawa oleh-oleh sam sekali?" Romi yang tidak percaya mendekati koper Anna dan membukanya dengan kasar, begitu juga Sri yang ikut mendekat untuk melihat isi dari koper menantunya.

"Kamu benar-benar ya An, kamu nggak bawa oleh-oleh sama sekali! Padahal kamu pulang kerja loh, apa kamu nggak mau menyenangkan hati mertuamu yang sudah baik sama kamu ini?" Sri mengacak-acak isi koper Anna dan isinya memang hanya baju saja.

"Ma sudah. Di situ nggak ada oleh-oleh, aku sudah bilangkan kalau aku nggak beli," ucap Anna.

Romi dengan kesal menendang koper istrinya, membuat Anna memejamkan mata. "Mas, kamu kenapa? Ini cuma perkara oleh-oleh loh. Kalau kalian mau, aku bisa pesan dan temanku bisa kirim dari luar negeri," ucapnya.

"Nggak usah. Aku sudah nggak minat, kamu memang terlalu perhitungan sama keluargaku." Suara Romi terdengar begitu ketus saat bicara dengan Anna saat ini.

"Kenapa nggak mau? Kalian ribut perkara oleh-oleh kan? Aku akan pesankan, kalian mau apa? Dan kamu Mas, kenapa kamu bilang aku perhitungan? Apa kamu lupa siapa yang melunasi utangmu dan juga cicilan motormu? Aku juga selalu memberikan apa yang kamu mau." Anna menatap suaminya, perkataan Romi membuat Anna kecewa.

romi terdiam, lelaki itu sadar jika dia terlalu emosi hingga lepas kendali. Memang Romi selalu mendapatkan apa yang dia mau, Anna selalu memanjakan suaminya karena takut Romi marah.

"Sudah jangan bertengkar. Kalian baru saja ketmu. Nggak usah. Mama sudh nggak minat. Tapi sebagai gantinya, besok kamu harus traktir Mama belanja," tolak Sri, tetapi tidak mungkin wanita itu mau rugi, dia tetap mengambil keuntungan dari kejadian itu.

Sebenarnya, oleh-oleh bukan hal yang utama, Sri menggunakan kesempatan itu untuk membuat Anna menuruti keinginannya.

"Iya sudah. Besok kita belanja," ucap Anna.

"Aku juga ya, Yank? Aku juga mau belanja." Romi menatap Anna penuh harap, setelah perkataan menyakitkan yang keluar dari bibirnya, Romi sama sekali tidak meminta maaf, lelaki itu malah bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.

"Kamu mau beli apa, Mas? Bukannya aku baru saja kirim baju-baju banyak untukmu. Baju itu mahal-mahal loh Mas." Anna menatap suaminya.

"Kamu ini kenapa? Kamu nggak boleh seperti itu, Romi itu suamimu. Kamu bisa seperti sekarang, sukses itu karena suamimu juga," timpa Sri.

Anna menatap mertuanya, dia tidak tahu harus berkata apa karena memang Sri selalu saja membela Romi.

Anna tahu, jika Romi adalah anak dari wanita itu, tetapi tidak wajar juga jika salahpun Romi tetap dibela oleh Sri.

"Iya sudah kamu boleh ikut," putus Anna.

Senyum Romi dan sri mengembang sempurna, mereka layaknya anak yang akan diajak untuk membeli mainan ibunya.

"Mas, aku capek. Aku mau istirahat dulu. Di mana kamarnya?" tanya Anna.

Romi segera bangkit, lelaki itu segera menuntun Anna untuk berjalan ke kamar yang mereka tempati. "Ayo kamu lihat kamar kita, kamu pasti suka dengan penataannya. Kamu pasti nyaman dan betah di dalam kamar," ucapnya.

"Ma, aku mau ke kamar dulu ya," pamit Anna.

"Iya, istirahat yang cukup Besok kamu harus tepati janji buat traktir Mama dan Romi," sahut Sri.

Anna tidak menanggapi, dia hanya diam dan meneruskan langkahnya untuk segera masuk ke dalam kamar.

Sesampainya di dalam kamar, Anna menatap ruangan itu, kamar itu luas dan ada kamar mandi di dalamnya.

Belum lagi lemari dan kasur yang dipakai juga begitu besar dan terlihat sangat nyaman.

"Gimana, Sayang? Kamu suka? Romi terlihat begitu bangga memperlihatkan kamar mereka.

"Suka Mas. Ini seperti kamar majikanku di luar negeri, semua serba putih. Aku sudah lama ingin kamar ini seperti ini sejak dulu," jelas Anna.

"Ya sudah, kamu mandi sana. Airnya juga bisa dibuat panas atau dingin jadikamu nggak usah khawatir. Kita nggak perlu repot untuk merebus air terlebih dulu seperti dulu," ucap Romi.

Lelaki itu mengambilkan hadnduk dari dalam lemari untuk Anna, sedangkan wanita itu merasa kenapa suaminya seakan membanggakan apa yang telah dia capai. 

Semua yang berada di rumah itu dibeli dengan uang Anna, Romi sama sekali tidak ikut membangun rumah dan mengisi rumah itu karena memang Romi sudah berkata jika dia tidak mampu, gajinya hanya cukup diberikan pada Sri.

Anna selalu memaklumi, wanita itu akhirnya membangun rumah untuk tempat tinggal mereka. Rumah yang dibangun di atas tanah yang juga dibeli oleh Anna jauh sebelum mereka menikah.

Usia pernikahan mereka kini menginjak lima tahun, Anna memang sudah pernah bekerja ke luar negeri sebelum menikah dengan Romi.

Bisa dibilang wanita itu mempunyai beberapa aset sebelum menikah dengan suaminya.

"Ayo mandilah. Apa kamu mau berendam air hangat? Kita juga punya bathtub?" Romi lagi dan lagi memperlihatkan betapa nyaman kamar mereka.

Anna menatap suaminya, dia melihat Romi sangat perhatian padanya. Tentu saja hal itu membuat wanita itu senang, dia senang meski mereka berjauhan tapi sikap romi ternyata tetap seperti dulu.

"Nggak usah Mas. Aku mau mandi terus istirahat," tolak Anna.

romi mendekat dengan memberikan handuk yang sudha berada di tangannya. "Kamu yakin? Ayo kita berendam bareng. Aku kangen banget, Sayang," bisik Romi.

Anna tersipu malu mendengar bisikan Romi, wanita itu ingin menggelengkan kepalanya, tetapi gerakan Romi lebih cepat.

romi mengangkat tubuh Anna ke dalam gendongan, mereka masuk ke dalam kamar mandi bersama.

"Kamu tunggu dulu. Aku siapkan airnya." romi menurunkan Anna dekat dengan bathtub yang mulai dia isi air hangat.

romi tersenyum nakal saat menatap Anna membuat wanita itu mengalihkan pandangan untuk menyembunyikan senyumnya.

"Jangan ditahan. Kamu senyum saja, senyum manis itu milikku," ucap Romi yang sudah berada di depan Anna.

Wanita itu bingung harus melakukan apa, mereka memang sudah menikah, tetapi entah kenapa Anna begitu canggung pad suaminya sendiri

"Kamu gugup?" bisik Romi. 

Anna tidak akan bohong dengan apa yang dia rasakan, wanita itu mengangguk kaku. "Iya Mas," sahutnya.

"Ini bukan pertama kali Sayang. Meski kita dulu hanya melakukan dua kali, tapi kamu percaya rasanya tetap sama. Aku nggak akan kasar, aku akan memperlakukan kamu dengan lembut. Jangan takut." Romi mulai memeluk Anna, lelaki itu mulai melepas setiap helai benang yang melekat pada istrinya.

Anna tidak bisa menolak, wanita itu tahu Romi pasti sudah menginginkannya sejak lama, wajar jika lelaki itu sekarang terlihat sangat rakus.

Posting Komentar untuk "Kuusir Suami Pengkhianat"