Sugar Baby Calon Papi
Sugar Baby, Om
Padahal ayah Kania masih hidup, meskipun dalam keadaan sakit-sakitan. Dan semenjak itu, rumah tangga kedua orang tua sahabatnya itu mulai diterpa masalah. Mulai dari keuangan yang menipis, kesehatan ayah Kania menurun, dan perselingkuhan sang ibu, yang ingin mencari pria kaya raya untuk memenuhi jiwa sosialitanya.
Terbiasa hidup mewah, Yulia, ibunya Kania mulai mencari pengganti sang suami, karena perusahaannya sudah bangkrut dan sakit-sakitan. Kini Kania yang menghidupi mereka dari gajinya yang tak seberapa.
Kania mengangguk lemah. "Kali ini bakal susah deh, In." lirihnya.
"Lah, kenapa? Biasanya juga mudah, Kan?" Indri memburu. Gadis berkacamata itu tidak sabar menanti jawaban dari Kania. Karena sejauh ini mereka selalu berhasil setiap mengusik Yulia mendekati pria lain.
"Pria itu mencintai Ibu dan dia bersungguh-sungguh. Dia juga ingin menikahi ibu dalam waktu dekat dan tadi pagi beliau meminta ayah untuk menalaknya," lirih Kania. Seraya menempelkan pipinya pada kaca meja.
Kania benar-benar tidak habis pikir sang ibu bisa setega itu demi bisa menikah dengan duda kaya. Padahal gajinya masih cukup untuk menebus obat sang ayah dan mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Meskipun hanya bisa makan dengan lauk seadanya saja.
"Oke, berarti kita harus bekerja keras setelah ini. Punya foto target kan, ya?" ucap Indri. Memperbaiki letak kacamatanya.
Kania mengangguk. Tanpa mengangkat kepalanya dari meja, ia menyerahkan ponsel kepada Indri.
"Ah, Kania! Ini sih, pucuk dicinta ulam pun tiba!" pekik Indri berseru girang. Melihat foto pria yang di ponsel Kania.
Gadis berambut hitam panjang itu mengangkat kepalanya. Matanya mengerjap dua kali, heran melihat respon Indri.
"Maksudmu?"
"Tunggu!" Indri mengeluarkan ponselnya dari Sling bag yang ia miliki. Jari jempolnya menari lincah mencari aplikasi chat yang sedang ramai digunakan oleh orang-orang untuk mencari jodoh.
"Namanya Bruno Sanders, usia empat puluh tahun." Menyebutkan biodata seseorang, di aplikasi tersebut.
Kania menelengkan kepalanya. "Kamu tahu darimana profil lengkap pebinor itu?"
"Ck, makanya kamu itu duduk yang baik. Ini, si Olive tadi bikin status, dia lagi rekomendasikan om-om tampan yang lagi nyari jodoh. Dan target kita salah satunya. Gila, kan. Dia nyari jodoh apa nyari sugar baby, sih? Kriteria usia dibawah dua puluh tahun. Gila, gila, ini om-om," keluh Indri. Menggelengkan kepalanya.
Kania tersentak. "Apa? Sugar baby usia dua puluh tahun? Gila-gila, terus hubungannya dengan ibuku?"
"Astaga..., Kan! Katanya tadi mau misahin dia dari ibumu. Kenapa sekarang kamu malah terkejut gitu, sih?"
"Bukan begitu, In. Setelah dia melamar ibu, kenapa dia malah mencari sugar baby coba? Katanya dia itu serius dan ingin menjadikan ibu sebagai istrinya yang terakhir." Kania kembali menempelkan pipinya di meja.
"Berarti dia juga mainin ibu aku. Kalau mereka jodoh berarti pas yang dikatakan oleh orang-orang. Jodoh adalah cerminan diri," sambung Kania.
Indri menggelengkan kepalanya. melihat Kania yang kehilangan semangat hidup karena urusan kedua orang tuanya.
"Nah...justru itu, Kan. Kamu harus menjadi sugar baby ini orang, supaya dia lupa pada ibumu dan sekalian bilangin ibumu sudah memiliki suami," ucap Indri. Seraya menyesap jus miliknya.
"Apa?" pekik Kania. Seraya memukul meja dengan keras.
"Uhuk, uhuk, sialan kamu!" umpat Indri. Nyaris saja jus yang ia minum salah jalur menuju hidung karena ulah Kania.
Mata Kania berputar malas. "Kamu yang sialan, kamu yang mulai. Seenaknya saja memintaku menjadi sugar baby." Ia berdecak sebal.
Indri yang seenaknya saja memberikan ide gila. Tidak mungkin ia menjadi sugar baby untuk selingkuhan sang Ibu, mau ditaruh di mana mukanya? Nanti jika ada yang mengetahui kalau ia menjalin hubungan dengan pria yang usianya nyaris sama dengan sang ayah, tentu saja akan menjadi bahan olokan.
Umur Kania yang kini baru memasuki usia dua puluh tahun tentunya sangat-sangat tidak mungkin bila bersanding dengan pria empat puluh tahun seperti Bruno.
"Pokoknya aku tidak mau menerima usulanmu yang ini."
"Terserah padamu kalau tidak mau ya, sudah. aku tidak memaksa. Yang akan hancur rumah tangga ibumu bukan aku. Yang bakal menjadi duda ayahmu bukan ayahku." Indri kesal karena usulannya tidak diterima Kania, padahal menurutnya ide itu sangat-sangat brilian.
"In, please, lah, jangan seperti itu. Aku memintamu datang ke sini untuk mencari ide bagaimana caranya agar aku bisa menjauhkan Ibu dari laki-laki berengsek itu. Bukannya malah menambah daftar masalah seperti ini biasanya kamu selalu memberikan ide yang sangat brilian, ini malah menjatuhkan harga diriku."
"Kania, dengar, ini merupakan satu-satunya jalan agar bisa memisahkan ibumu dari lakii-laki itu. Kamu pikir dengan baik, ibumu dilamar dan dia malah mencari sugar baby seperti ini. Itu artinya dia bukan pria yang baik-baik. Terima saja apa yang aku katakan, sekalian kamu bisa berenang sambil minum air."
"Apa hubungannya dengan berenang sama minum air?" Kania penasaran.
"Gini, loh, kamu deketin dia buat misahin ibumu dari pria itu kan. Nah...dia kan orang kaya kamu bisa sekalian memeras kekayaannya untuk biaya berobat ayahmu dan biaya kuliah. Bisa?"
"T-tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian, kamu jangan munafik. Hidup ini butuh biaya yang amat besar jadi janganlah bersikap seolah-olah hidupmu akan baik-baik saja tanpa uang dan tidak ada salahnya kamu mencoba. toh yang melakukan ini bukan kamu saja teman-teman kita pun banyak berprofersi seperti ini lihat saja Riana, baru masuk kere minta ampun. Sekarang?"
Kania manggut-manggut.
"Tapi bagaimana dengan Rendy?"
"Tak usah pikirkan laki-laki kere itu, tidak ada gunanya." Indri mengibas-ngibaskan tangannya.
"Kere apanya? Dia anak seorang dosen."
"Itu, tahu, dia anak seorang dosen. Tapi belum bisa menghasilkan uang sendiri itu artinya masih kere. Mana mungkin dia bisa membantu biaya berobat ayahmu jika terus-menerus menjalin hubungan dengannya. Abaikan dia. Sudah saatnya kamu melangkah selangkah lebih maju seperti teman-teman yang lain seperti beberapa mahasiswi yang lainnya kamu lihat tidak Si Olive, dia pertama kali kuliah juga hanya menggunakan sepeda motor matic biasa setelah berkenalan dengan om batubara dia datang ke sekolah menggunakan Pajero. Bayangin Berapa banyak uang yang ditransfer sama Om batubara itu mana botak lagi dekil ih.
Ini mending, ganteng dan tidak terlihat kalau dia telah berumur."
"Jadi menurutmu?"
"Jangan tanya lagi. Ini nomor ponselnya segera kamu hubungi syukur-syukur ada lowongan lagi untukmu."
Kania ragu, tapi tetap saja mencatat nomor ponsel yang diperlihatkan Indri. Gugup ia menyimpan nomor ponsel Bruno di sana.
"Habis ini bagaimana?"
"Kalau menurutku lebih cepat lebih baik."
"Hari ini juga?" Tanya Kania ragu.
"Tentu saja, kapan lagi. Ini sudah saatnya kamu membuka lembaran baru dengan pekerjaan yang baru. Berapa sih gaji di kafe ini, kan?"
"Tapi aku belum siap harus ngamar sama pria."
"Iya aku tahu itu, tapi aku yakin kamu bisa memulainnya dengan tahap awal.
Olive pernah bercerita padaku untuk menjadi sugar baby tidak semata-mata langsung menuju kamar dan melayani pria yang ingin menyewa kamu. Di tahap awal kamu bisa menemaninya makan atau jalan-jalan, menemaninya berbicara atau karaoke jangan langsung ke inti masalah kalau memang kamu belum berani, tapi kalau kami ingin yang lebih besar otomatis haru ngamar."
"Jadi aku..."
"Jangan tanya ini itu lagi. Aku yakin kamu tau apa yang kumaksud." Meraih sling bagnya. "Ya, sudah aku pergi dulu. Masih ada urusan yang harus aku selesaikan. Kamu sekarang lanjut bekerja jika butuh bantuan cepat hubungi aku.
Kania mengangguk. "Aku juga akan coba temui dia. Mungkin pulang dari Cafe aku bakalan menghubungi dia dan mengajak pertemuan sebelum aku pulang."
"Bagus!" Tanpa aba-aba Indri merampas ponsel dari tangan Kania. Ia menyapa Bruno dari ponsel gadis tersebut.
"Eh, In..."
Kania terperanjat melihat Indri telah merampas ponselnya dan dengan santainya gadis itu benar-benar menyapa Bruno, mengajak ketemuan nanti sore setelah pekerjaannya selesai.
"Kamu gila, ya? Aku masih mikir," Kania berdecak karena Indri benar-benar telah mencampuri ranah pribadinya.
"Ya...gimana ya. Kalau nungguin kamu lama soalnya. Nah, ini dia dibales."
Kania merenggut membaca pesan masuk yang dikirimkan Bruno. tubuhnya menegang, pria itu benar-benar mengajak Kania ketemuan sekitar jam empat sore di sebuah cafe yang ada di pinggiran danau.
"Ya, sudah sana kamu bekerja. Setelah pulang nanti temui dia. Kabarkan padaku apa yang kalian bicarakan." Indri bergegas beranjak begitu mobil sang kekasih berhenti di depan Cafe.
Kania mendesah panjang, masih menatap ponselnya. Tak percaya kalau baru saja Indri membuat janji dengan Bruno. itu artinya kalau ia datang, semuanya terpaksa dijalani sebagaimana mestinya.
Kalau seandainya ia tidak datang, otomatis tak lagi bisa memancing Bruno untuk bertemu dengannya. Kania masih menimbang jalan apa yang akan dipilih untuk menyelamatkan rumah tangga kedua orang tuanya. Sekaligus untuk membiayai pengobatan sang ayah.
"Iya, Yah Ada apa?" sapa Kania di ujung panggilan, begitu mendengar ponselnya berdering. Sang ayah melakukan panggilan padanya.
"K-kan..."
"Yah, halo. Ayah kenapa?"
"Bisakah kamu pulang, Nak?"
"Aku segera pulang, Yah!" Kania bergegas mengakhiri panggilan. Tidak perlu banyak tanya, suara berat sang ayah nan putus-putus, sudah bisa menjelaskan bagaimana kini kondisinya di rumah.
Kania bergegas berlari menuju parkiran membawa sepeda motor bututnya meninggalkan area cafe untuk menyusul sang ayah. Tanpa ia ketahui apa yang dilakukan ternyata membawa dampak buruk pada pekerjaannya. Padahal Kania baru bekerja satu bulan di sana tapi bisa-bisanya meninggalkan pekerjaan tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada pihak manajer Cafe.
Sehingga umpatan demi umpatan diberikan karyawan lain ketika Kania pergi begitu saja, karena jam istirahat sudah selesai.
"Ayah kenapa?" Kania berusaha menuntun sang ayah untuk berdiri. Pria itu tergeletak lemas di lantai dan di rumah tak ada seorangpun yang menjaga.
"Ibumu menuntut perceraian dari Ayah. Katanya dia ingin menikah dan butuh surat cerai dari pengadilan agama."
"Ibu?" Kania mengulang, memastikan apakah benar apa yang ia dengar.
"Ya, katanya kekasihnya telah melamar dan ibumu juga memperlihatkan cincinya pada Ayah. Sebagai tanda keseriusan laki-laki itu untuk mempersunting ibumu.
"Astaga...Ibu!" Kania menggeram. Tidak mengerti bagaimana lagi caranya mengajak sang ibu untuk berdamai dengan keadaan padahal wanita paruh baya itu tau bahwa sang suami sangat mencintainya.
Dan kebangkrutan yang mereka alami merupakan campur tangan darinya pula. Tentu saja sangat tidak adil jika sang ayah ditinggal sendirian dalam keadaan terpuruk seperti sekarang.
"Kan, Ayah akan melepaskan ibumu. Ayah ingin dia bahagia." Rudi berusaha ikhlas saat ini. Daripada menahan Yulia dan membuatnya semakin dibenci, tentu bercerai adalah jalan yang tepat saat ini.
"Ayah yakin?"
Kania memastikan. Memang itu pula jalan yang ia inginkan, tapi ia tidak ingin kondisi sang ayah semakin memburuk nantinya.
"Tentu, jika itu yang terbaik untuk Ibumu."
Rudi menyahut pasrah, mau mempertahankan istrinya pun tak lagi berguna karena ia sudah renta dan tak bisa melakukan apa-apa.
Hidup hanya bergantung pada gaji Kania yang tak seberapa. Harus berbagi pula dengan biaya kuliah gadis itu, ini pun uang UKT Kania belum dibayar sedangkan sebentar lagi gadis itu akan melakukan ujian semester.
"Ya, sudah kalau memang kita harus melepaskan Ibu. Asalkan Ayah baik-baik saja."
Rudi hanya mengangguk, pasrah memaksakan senyumannya sebagai tanda bahwa ia baik-baik saja meskipun dalam hatinya begitu remuk kehilangan wanita yang sangat ia cintai.
"Ayah tunggu di sini, Kania mau mengambil obat untuk Ayah," ucap Kania, setelah memastikan sang ayah berbaring dengan baik di ranjang.
Ia bergegas menuju nakas untuk mengambil obat namun, gadis itu mendesah panjang. Tak ada lagi sebutir pun obat di sana, ia benar-benar lupa untuk membeli obat padahal tadi pagi sudah melihat kalau obat yang biasa ditebus satu kali seminggu telah habis tak tersisa.
"Yah, obatnya tidak ada aku keluar dulu untuk membeli obat!" pamit Kania.
Rudi hanya mengangguk, membiarkan sang putri membeli obat di apotek. Ia benar-benar pasrah harus hidup dengan separuh tubuhnya dan ketergantungan obat-obatan. Terakhir dokter mengatakan ada pembengkakan di bagian otak dan harus segera dioperasi. Ingin rasanya ia meminta Kania menyerah dan mengabaikannya saja tapi gadis itu malah kukuh ingin berjuang sampai ia benar-benar sembuh.
Meskipun Kania harus bekerja banting tulang siang dan malam demi mendapatkan uang, semua hanya untuk dirinya saja. Rudi merasa sebagai beban sehingga sakitnya bukannya bertambah membaik malah semakin memburuk.
***
Talak selang beberapa lama Kania kembali. Beruntung ia baru gajian dua hari yang lalu sehingga memiliki uang yang cukup untuk membeli obat. Sebelum masuk ke dalam kamar langkahnya terhenti, membeku, mendengar suara isakan sang ayah dari kamar.
"Sebenarnya kau tak sanggup kehilanganmu, tapi bagaimana, itu satu-satunya jalan yang bisa membuatmu bahagia. Berbahagialah di sana, aku dan Kania akan berusaha hidup tanpamu."
Kania mengela napas. Kalau begini terus, yang ada kondisi sang ayah semakin menurun.
"Aku akan usahakan agar Ibu pulang," gumam Kania dalam hati, sebelum masuk ke kamar. Memaksakan senyumannya, agar sang ayah tidak tau ada amarah dan rasa benci yang mengakar kuat di dalam hatinya untuk sosok wanita yang ia sapa 'ibu'.
Begitu selesai mengurus sang ayah, Kania pamit untuk kembali ke Cafe. Berat memang meninggalkan sang ayah di rumah sendirian, tapi tak ada jalan karena ia harus bekerja.
Begitu sampai di Cafe bukannya dipersilahkan untuk bekerja, justru pengusiran yang didapat
"Kau tak memiliki sopan santun jadi tak layak lagi bekerja di sini!" tutur manajer Cafe ketika Kania ingin melanjutkan tugasnya.
"T-tapi, Pak!
"Tidak ada tapi-tapian di sini. Kesopanan merupakan kunci utama dalam bekerja Kamu sering bolos dan hilang dalam jam kerja dengan alasan ayahmu sakit dan saya tidak menerima itu lagi."
"Tapi ayah saya benar-benar..."
"Saya sudah katakan kami tidak menerima alasan apapun karena kamu tidak profesional dalam bekerja, silahkan angkat kaki dan jangan tunjukkan lagi batang hidungmu di sini!"
Kania tertunduk lemas, kalau ia dipecat seperti ini bagaimana caranya membayar uang UKT. Sedangkan uang yang tersisa hanya sekitar satu juta rupiah saja.
Belum lagi untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan obat sang ayah.
"Obat Ayah hanya cukup untuk satu Minggu. Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya, meremas ponsel yang ada di tangannya.
Kania menghapus air mata yang mengalir di pipi, sebelum kembali mengendarai sepeda motor butut miliknya.
Kania berputar-putar tak tentu arah ia menimbang apakah melakukan saran dari Indri atau tidak. Gadis itu tidak bisa membayangkan harus hidup tanpa pekerjaan, sedangkan uan UKT harus dibayar.
biaya makan sehari-hari harus dicari dan obat untuk sang ayah pun harus ia dapatkan. Dari mana Kania bisa mendapatkan itu semua? Tentu saja sangat-sangat mustahil baginya mencari uang tanpa bekerja, sedangkan mencari pekerjaan bukanlah perkara yang mudah.
Melepas lelah sejenak, Kania duduk di sebuah taman. Ia menghubungi Olive untuk bertanya bagaimana caranya menjadi seorang sugar baby. Dengan senang hati Olive menuntun dan memberikan petunjuk kepadanya dan benar saja, sesuai seperti apa yang kalian katakan Indri sugar baby tak semata-mata melayani langsung di atas ranjang, melainkan bisa menjadi teman curhat atau sahabat terlebih dahulu.
Tentu saja bayarannya tak sebesar ketika sudah menyentuh bagian kamar, dari sana Kania bertekad untuk menyetujui keinginan Indri. Ia kembali menghubungi Bruno dan mempertegas jam pertemuan mereka.
Cukup senang ternyata Bruno mau memajukan jam pertemuan mereka sehingga Kania tinggal membawa sepeda motornya menuju sebuah kafe yang pria itu tentukan.
Kania mengepalkan kedua tangannya erat, menarik nafas dalam, mencoba terlihat baik-baik saja. Berjalan dengan anggun menuju meja yang telah dipesan Bruno.
Pria itu juga telah duduk disana, menanti kedatangannya. Tak terlalu buruk, pria itu masih terlihat muda di usianya yang telah menginjak empat puluh tahun.
"Hai, saya Bruno!" langsung mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri kepada Kania.
Kania menarik kedua sudut bibirnya. "Kania." Balasnya, seramah mungkin agar Bruno tertarik padanya.
"Om, kita langsung saja ke inti pembicaraan."
"memangnya kamu sudah tahu apa maksud dan tujuan saya memasang iklan di aplikasi chatting itu?"
Kania mengangguk cepat. "Tentu saja, dan aku ingin menjadi sugar baby untukmu."
"S-sugar Baby? Astaga...kamu ini. Tujuan saya mencari gadis di aplikasi itu untuk menjadi kekasih putra saya, bukannya untuk menjadi kekasih gelap saya. Yang benar saja, saya harus menjalin hubungan dengan anak ingusan sepertimu." Bruno menggelengkan kepalanya.
Bisa-bisanya gadis yang mengajaknya berkenalan meminta untuk menjadi sugar baby. Padahal Bruno mencari gadis untuk menjadi kekasih putranya, yang begitu penakut terhadap lawan jenis.
Bukannya apa, putra Bruno yang sulung adalah tipe anak kutu buku dan lebih memilih untuk mengurung diri di perpustakaan dan tenggelam di dalam buku daripada bermain diluar. Sehingga ia enggan untuk berdekatan dengan orang lain apalagi berkencan dengan seorang gadis.
Sedangkan Kania sengaja mendekati Bruno agar bisa menjadi kekasih pria tersebut, supaya hubungan kedua orangtuanya tetap utuh seperti dulu. Sebelum Bruno datang dan membuat sang ibu, Yulia jatuh cinta dan menggugat cerai ayahnya Kania.
"Tapi aku tidak suka sama anakmu, Om. Aku sukanya sama Om, bagaimana dong?" goda Kania. Seraya duduk di pangkuan Bruno. Mengelus rahang tegas pria paruh baya tersebut.
Bruno yang jengah atas sikap Kania, mendorong gadis itu hingga jatuh ke atas kerasnya lantai.
"Jangan bertingkah aneh di depanku anak muda. Jaga sikapmu sebelum aku khilaf dan melakukan hal yang tidak-tidak!" ancam Bruno.
Alih-alih takut, Kania justru bangkit dan mengangkat wajahnya dengan angkuh.
"Aku tidak takut dengan gertakan kamu, Om. Kamu ingin melakukannya di mana? Hotel? Penginapan? Atau di rumahmu? Ayo, aku tidak takut!" tantang Kania.
"Ok, nanti malam temui aku di penginapan Pelita, seandainya kamu benar ingin menjadi sugar babyku!" Bruno balik manantang Kania. Ia sangat yakin gadis itu akan takut dan tidak akan datang menemuinya.
"Setuju! Jam delapan malam aku akan tunggu di sana!" tegas Kania. Seraya berjinjit dan mencium pipi kanan Bruno.
"Sampai jumpa nanti malam, Om!" Mengedipkan matanya, sebelum pergi meniggalkan Bruno yang mematung karena ulahnya.
Begitu jaraknya dan Bruno mulai jauh, Kania menghapus jejak pipi Bruno pada bibirnya. Seakan jejak yang teringgal bisa melenyapkan seluruh kewarasan yang ia miliki.
"Ya, Tuhan...maafkan aku. Aku terpaksa melakukan ini agar ibu tidak meninggalkan ayah. Aku tidak ingin ayah bertambah sakit gara-gara bercerai dari ibu," lirih Kania di dalam hatinya.

Posting Komentar untuk "Sugar Baby Calon Papi"