Nafkah Sisa Ibu Mertua
Seragam Bekas
"Mandi dulu, Mas. Aku siapin makanan ya!" ucap Arumi sambil kemudian tersenyum. Menolak secara halus keinginan sang suami untuk menyentuhnya.
"Ok," ucapnya, setelah itu berlalu masuk ke kamar.
Arumi pun memilih menyiapkan makanan untuk sang suami. Tahu betul saat-saat gajian seperti ini, suaminya hanya butuh dimanja. Padahal gaji Nazli bukannya mencukupi, namun seberapa pun itu tetap Arumi syukuri. Asal tak ada dusta di antara mereka.
Lima belas menit, akhirnya Nazli keluar dari kamar. Aroma sabun masih menguar dari tubuhnya. Tentu saja itu membuat rasa cinta di dalam hati Arumi meningkat berkali-kali lipat.
Dengan wajah semeringah ia memberikan amplop coklat seperti biasa kepada sang istri. Namun yang tak biasa di kali ini yaitu amplop itu terasa sangat tipis dan tak bervolume. tentu saja itu berhasil mengundang rasa penasaran di hati sang istri.
Nazli pun duduk dan akan segera menikmati makan malam itu, namun terhenti sebab suara syok dari Arumi.
"Mas, kok cuma enam ratus ribu? Uangnya kemana?" tanya Arumi. Sebenarnya tak ingin ada keributan saat berada di hadapan makanan seperti ini. Namun, pekikkan itu reflek ia lakukan. Firasat Arumi mulai tidak enak, biasanya dari gaji itu Arumi akan menerima uang sebesar satu juta setengah. Lalu mengapa hari ini jatahnya banyak berkurang?
"Aku tadi singgah ke rumah ibu, Yang. Ibu lagi sakit dan butuh biaya buat berobat. Mas harap kamu mau ngerti ya! Ibu aku kan ibu kamu juga," ucap Nazli dengan entengnya. Tangannya masih mengambil lauk yang telah disiapkan Arumi tadi.
Sementara Arumi, berdiri sambil menggenggam erat enam lembar uang pecahan seratus itu, mengingat bagaimana sang ibu mertua yang tak pernah bisa menganggapnya sebagai menantu yang baik. Kelakuannya selalu berhasil membuat Arumi ingin meremas ginjal wanita itu.
"Jadi gimana kehidupan kita selama satu bulan ke depan, Mas? Uang enam ratus ribu ini paling cukup untuk sepuluh hari. Itu pun harus aku hemat." Kesal pun tak terhindari. Pasalnya bukan kali ini saja, pemotongan sebagian gaji Nazli memang kerap terjadi, bahkan bisa dikatakan rutin setiap bulannya. Namun kali ini pemotongan itu sungguh tak berperasaan.
"Sabar ya sayang! Kita pasti bisa melewati ini semua. Pasti ada jalan," ucap Nazli menenangkan. Dirinya tetap santai menyuap nasi ke dalam mulutnya.
"Tapi bulan depan Sabrina udah masuk sekolah, Mas. Nggak bisa kah sekali saja nggak kasih uang ke ibu kamu? Demi Sabrina, Mas. Atau seenggaknya kamu tahan dulu jatah ibu bulan ini saja!" Sebenarnya Arumi tak mengapa jika sang suami ingin berbakti kepada ibunya dengan cara membagi uang bulanan dari gajinya, asal tidak mengabaikan kewajiban terhadap anak dan istrinya.
Namun kali ini Arumi benar-benar berharap dirinya dapat menepati janji kepada sang buah hati untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya.
Terdengar hembusan berat dari Arumi, membayangkan bagaimana dirinya dan keluarga bisa bertahan satu bulan ke depan dengan uang enam ratus ribu ini, apalagi bulan depan Sabrina mulai menginjakkan kaki di bangku sekolah. Tentu saja biayanya tak sedikit.
Bibirnya sedikit mengerucut dan akhirnya memilih meninggalkan sang suami yang begitu lahap menyuap makanan itu.
Nazli pun tak ambil pusing dengan perubahan mood sang istri. Yakin bahwa Arumi tak akan bisa berlama-lama kesal kepadanya, sebab cinta yang dimiliki Arumi kepadanya hanya karena hal sepele, kemarahan wanita itu berlarut-larut. Begitu pikir Nazli.
***
Tepat jam 08.00 pagi Arumi baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai seorang istri yaitu membuatkan sarapan untuk sang suami. Nazli baru saja keluar dari kamar, wajahnya tampak semeringah setelah semalam memberikan nafkah batin kepada Arumi. Kesal tak membuat Arumi jadi kehilangan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Mas, hari ini aku mau belanja keperluan Sabrina. Seragam sekolah sama perlengkapan belajarnya. Kamu ikut ya," pinta Arumi. Itu ia lakukan agar sang suami tahu bahwa keperluan sekolah anaknya tidak murah dan uang enam ratus ribu itu tidak seberapa.
"Mas capek, Yang. Kalian aja ya! Oh ya, uangnya dihemat ya! Kita kan belum tahu kedepannya gimana. Pokoknya mas yakin kamu paling bisa ngatur keuangan keluarga."
"Sepintar apapun wanitanya, nggak akan sanggup ngatur kebutuhan bulanan kalau uangnya cuma enam ratus ribu, Mas," protes Arumi yang sejak tadi malam sebenarnya sudah malas melanggati ucapan lelakinya itu, apalagi sampai melayani nafsu birahi Nazli tadi malam. Semua itu terjadi sebab Arumi masih menjunjung rasa hormatnya kepada sang suami.
Tok tok tok
"Assalamualaikum, Nazli," teriak seorang wanita dari arah pintu utama rumah itu.
Arumi dan Nazli hafal betul suara siapa itu. Pasti ada sesuatu yang penting sehingga membawa langkah wanita paruh baya itu kemari.
"Loh, bukannya kamu bilang ibu lagi sakit, Mas? Kenapa udah sampe sini aja?" tanya Arumi dan Nazli tampak bingung harus menjawab apa. Karena sebenarnya itu hanyalah alibi saja agar Arumi tak marah jika dirinya memberikan jatah bulanan lebih dari biasanya.
Mardona tampak sehat walafiat. Tak menampakkan sedikit pun bahwa dirinya sedang sakit. Persis seperti apa yang di katakan sang suami kemarin.
"Kamu kemarin kan bilang kalau si Sabrina mau masuk sekolah. Nggak usah beli seragam lagi, boros. Mending uangnya disimpan buat keperluan lain. Nih ada baju bekasnya si Amel. Masih layak pakai." Mardona menyodorkan kantung plastik itu ke arah Arumi hingga mengenai perut wanita itu.
Arumi melempar pandangan ke arah Nazli. Ekspresinya begitu berbeda dengan ekspresi bahagia Nazli.
"Udah, ah. Ibu mau ke pasar dulu. Keburu siang," ujar Mardona dengan bibir yang mencibik setelahnya.
"Alhamdulillah ya, Yang. Dapat seragamnya Amel, jadi nggak perlu beli seragam lagi. Yakin pasti kamu bisa hemat sampai akhir bulan," ucap Nazli sambil mendekat kepada Arumi, bersiap akan memeluk untuk mengulang aksinya semalam.
Arumi hanya diam sambil menatap wajah lekat sang suami. Mengapa tidak ada kepekaan sedikit lelakinya itu terhadap Sabrina darah dagingnya? Setidaknya ada niat dan usaha untuk menyenangkan hati sang anak. Sungguh, hatinya nelangsa sekarang.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi, Mas. Kamu bilang ibu sakit, tapi kelihatan kok kalau ibu itu sehat. Bahkan lebih segar dari biasanya. Apa jangan-jangan kau bohong ya?" Arumi menatap penuh selidik lelakinya itu. Matanya melirik tajam terhadap Nazli.
Sehingga Nazli harus mengeluarkan jurus pamungkasnya yaitu memeluk Arumi saat marah seperti ini. Agar kemarahan itu segera mereda.
Nazli sudah paham betul dengan tabiat sang istri. Akan luluh jika diberikan sedikit saja sentuhan cinta. Namun kali ini tidak begitu, Arumi seakan sudah muak dengan sikap sang suami yang tidak terbuka masalah kemana pergi gajinya setiap bulan.
"Awas, Mas! Aku mau lihat dulu kayak apa seragamnya." Arumi menepis tangan Nazli dan beralih ke meja makan untuk melihat baji yang diberikan ibu mertuanya tadi.
Arumi mulai mengambil pakaian dari kantung plastik itu, perasaannya mulai tidak enak. Membentangkan baju itu di atas meja makan. Matanya membulat sempurna saat melihat kondisi dari seragam SD itu.
Warna aslinya sudah hilang dan berganti menjadi warna putih kekuningan. Ada banyak tahi lalat di bagian leher dan ketiak seragam itu. Arumi beralih ke bagian rok seragam itu, tak ada resletingnya. Hati Arumi menculas sedih. Layaknya seragam ini digunakan untuk anaknya yang baru pertama kali sekolah?
Tak adakah sedikit saja perasaan sang mertua untuk cucu dari anak lelakinya? Sementara selama ini. Arumi tahu bahwa Nazli tak pernah sekali saja tak memberikan jatah bulanan kepada Mardona.
"Bawa ke tukang permak aja, Yang! Kalau bajunya itu masih bisa di pemutih. Nanti kita beli pemutihnya," ucap Nazli memberi solusi. Hati sudah terlanjut nelangsa melihat ini semua, suami dan mertua ini semua, suami dan mertua sungguh tak berperasaan.
"Ini sangat nggak layak pakai, Mas. Kamu tega Sabrina pake seragam sekolah kayak gini, Hem?" Hati Arumi teriris. Masih membayangkannya saja matanya sudah berkaca-kaca.
"Aku sudah janji sama Sabrina, Mas. Besok seragam baru itu sudah ada di lemarinya. Dia pasti kecewa kalau tahu seragam ini yang kita kasih ke dia," jelas Arumi meyakinkan sang suami bahwa betapa tidak layaknya pakaian yang dibawa oleh mertuanya tadi.
"Sabrina itu masih kecil, Yang. Dia nggak tahu pakaian itu baru atau enggak, yang dia tahu seragam itu ada. Tapi kalau kamu tetap ingin beli seragam baru ya terserah. Beli lah! Tapi jangan ngeluh pas uang belanjanya habis!" jawab Nazli kemudian kehilangan selera makannya dan memilih untuk pergi ke rumah ibunya saja.
"Dimana perasaanmu, Mas? Anak sendiri mau sekolah aja nggak bisa beliin seragamnya. Padahal dulu si Amel pas mau masuk sekolah kamu malah yang belanjain semua keperluannya. Mulai dari sergam putih merah, batik, Pramuka, tas, sepatu. Padahal si Amel itu masih punya orang tua dan orang tuanya juga terbilang mampu. Beda banget kelakuanmu sama anak sendiri," gumam Arumi setelah suara deru msein motor Nazli menjauh dari pendengaran.
Kali ini Arumi tak perduli meski nanti Nazli akan marah kepadanya. Yang jelas, hari ini Arumi berniat menunaikan janjinya kepada Sabrina, anak semata wayangnya.
"Bun, kita jadi kan beli baju sekolah aku?" tanya Sabarina yang berdiri di ambang pintu kamar mandi. Gadis kecil itu baru saja selesai mandi dan langsung menagih janji sang ibu untuk membelikannya keperluan sekolah.
Arumi menatap plastik hitam tempat seragam sekolah dari mertuanya itu masih tergeletak di atas meja makan. Dari pada sakit hati, Arumi memilih untuk membuang pakaian lusuh itu ke tempat sampah.
"Pasti jadi dong, Sayang. Lekas pakaian! Kita langsung pergi," ucap Arumi dengan nada lembut dan senyum yang lembut pula.
"Yeeeeei, beli baju sekolah," ucap Sabrina kegirangan.
"Bun, sekalian kita makan mie ayam ya!" ucap bocah itu sebelum benar-benar masuk ke dalam kamarnya. Arumi mengangguk sambil melengkungkan senyum. Senyum yang berubah jadi kegetiran saat Sabrina sudah berlalu pergi.
Tak perlu mewah untuk membahagiakan buah hatinya, namun sang suami tak mau tahu akan hal sederhana itu.
***
"Bulan depan mau tukar handphone dong. Handphone udah ketinggalan zaman, pengennya yang bobanya ada tiga. Nyicil juga nggak masalah, yang penting anakku Nazli sanggup bayar," ucap Mardona berangan-angan.
Selesai berkeliling di pasar, Mardona memang berencana akan menambah koleksi perhiasan emasnya. Setidaknya uang hasil pemberian Nazli harus berlabuh ke perhiasan yang sewaktu-waktu bisa ia jual kembali.
"Pokoknya nggak mau tahu. Gaji Nazli harus selalu aku kuasai, capek loh aku sekolahin dia sampai sarjana kalau nggak ada timbal baliknya. Yah, anggap aja dia nyicil uang yang udah keluar buat biaya sekolah dia dulu," gumam Mardona yang kegirangan saat menatap rentetan perhiasan emas di dalam etalase kaca.
Matanya berbinar seakan geram melihat betapa berkilaunya emas-emas itu.
"maaf ya, Nak. Anting-antingnya bunda jual dulu. Nanti kalau bunda udah punya uang kita beli lagi," ucap Arumi yang sedang berlutut menyamakan posisi dirinya dan Sabrina. Sebenarnya tak sampai hati melepas satu-satunya perhiasan yang ada pada diri Sabrina, namun itu harus Arumi lakukan sebab Sabrinad sangat butuh keperluan sekolah.
"Nggak papa, Bun. Aku doain bunda dan ayah punya banyak uang. Supaya bisa beli apa yang Bina mau." Gadis kecil itu tersenyum seakan memberikan semangat kepada sang ibu untuk tetap tegar menjalani kehidupan ini.
"Makasih, Sayang. Kalau begitu temani bunda ya!" Arumi berdiri dari posisinya. Mengambil sebelah tangan Sabrina dan menuntunnya masuk ke dalam sebuah toko emas.
"Arumi," panggil seseorang yang suaranya begitu Arumi hafal. Arumi langsung menoleh ke sumber suara.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Mardona sambil menaikkan lengan bajunya sampai ke siku. Seakan ingin memberi tahu bahwa dirinya baru saja menghabiskan gaji Nazli.
"Kamu pasti mau belanja emas juga ya. Beruntung kamu dinikahi sama anakku. Nazli memang lelaki yang adil. Dia kasih ibu uang untuk beli emas, istri dan anaknya juga dikasih dong ya," ujarnya.
Arumi tercengang mendengar pernyataan itu. "Ya udah lah ya. Selamat berbelanja! Ibu duluan, ingat! Jangan boros! Ibu nggak suka punya mantu boros. Kasian anak ibu yang cari duit. Kecuali kalau kamu nggak pengangguran," ucap Mardona sambil mengambil dua plastik besar belanjaannya dan dengan susah payah membawanya keluar dari toko itu.
Ada yang nyeri di sudut hati Arumi. di saat dirinya kesusahan, bagaimana cara memutar dan mencukupkan uang enam ratus ribu untuk satu bulan, sang ibu mertua malah dengan entengnya mengatakan bahwa Arumi beruntung memiliki Nazli.
"Bun, cepet dong! Aku laper," ucap Sabrina membuyarkan lamunan Arumi. Arumi tersentak dan langsung bergegas mengeluarkan anting itu dari dalam tas, kemudian menyerahkannya kepada penjaga toko.
Anting seberat setengah gram itu dihargai kurang lebih empat ratus ribu. Arumi memejamkan mata saat menerima uang itu. Ternyata uang itu tak seberapa nilainya dibandingkan dengan keperluan sekolah anaknya yang rincian harganya jauh di atas harga emas itu.
"Kita makan dulu, Bun! Aku laper banget," pinta Sabrina dan Arumi pun menurutinya.
Masuk ke warung mie ayam dan bakso dan memilih tempat duduk yang menurutnya paling nyaman. Tak butuh waktu lama untuk pesanan itu datang. Arumi dan Sabrina pun langsung menikmatinya.
"Waaah enak ya, foya-foya," ucap seseorang sambil menggebrak meja. Hingga Arumi dan Sabrina terkejut dibuatnya.

Posting Komentar untuk "Nafkah Sisa Ibu Mertua"